Cara (Tidak) Mudah Membangun Bisnis Digital

Businessman using tablet computer

PERKEMBANGAN jaman, (juga teknologi) memungkinkan siapapun bisa menjadi penerbit. Artinya, semua orang kini bisa masuk dan ikut memperebutkan kue di bisnis penerbitan, terutama di buku digital. Apa yang harus dilakukan untuk memulai bisnis buku digital? Ini hal yang bisa dilakukan:

1. Pilih nama penerbitan

Karena Anda akan menjadi penerbit, maka Anda perlu memilih nama untuk penerbitan itu. Nama tentu terserah Anda. Saya, misalnya, mendirikan beberapa perusahaan penerbitan yang menerbitkan buku digital di sejumlah platform. Masing-masing genre memiliki nama penerbit tersendiri. Misalnya untuk kisah fiksi bergenre Western, nama penerbit yang saya gunakan adalah Wildwest Press Co. dan Wild West Story Corp. Untuk terbitan yang menggunakan nama sendiri, saya menggunakan penerbit Daun Ilalang Publishing.

Buku terbaru terbitan Daun Ilalang Publishing

Buku terbaru terbitan Daun Ilalang Publishing

Untuk buku-buku kuliner diterbitkan oleh SweeTaste Press dan Delicious Taste Publishing. Untuk genre kisah misteri dan horror diterbitkan oleh Mystery Press Corp., dan seterusnya. (Perusahaan penerbitan yang saya dirikan itu tentu hanya berkantor di dunia maya, hehehe.)

2. Sediakan modal

Namanya bisnis tentu perlu modal. Apapun jenis bisnisnya, tetap memerlukan modal. Berapa besar modal yang perlu disediakan untuk bisnis penerbitan buku itu tergantung platform yang digunakan.

Pada buku digital, modal dibutuhkan untuk membeli foto untuk cover buku. Jika tak punya waktu untuk membuat cover secara mandiri, Anda perlu menyewa seseorang yang mampu. Untuk tahap awal, sebaiknya modal ditekan seminimal mungkin.

3. Tentukan distributor

Saya memulai dengan menerbitkan buku digital di KDP Amazon. Belakangan, saya juga merambah ke Smashwords yang menyalurkan ke Barnes & Noble, iBooks, Kobo dan beberapa situs terkemuka. Saya juga menggunakan Draft2Digital yang menyalurkan buku digital di Barnes & Noble, iBooks, Scribds dan Overdrive.

4. Buat perencanaan

Setelah menentukan distributor, langkah selanjutnya adalah membuat perencanaan. Misalnya, untuk tahun 2015, berapa buku digital yang direncanakan untuk diterbitkan? Apa jenisnya, apakah non fiksi atau fiksi?

Biasanya buku non fiksi lebih gampang dibuat, dan tentu lebih cepat. Buku fiksi, terutama novel cenderung susah dibuat dan perlu waktu. Jadi untuk perencanaan, misalnya Anda tentukan, untuk tahun 2015 akan menerbitkan 5 buku non fiksi, 7 cerpen dan 3 novel.

Setelah menentukan berapa buku yang akan diterbitkan, tentukan jangka waktunya. Jadi di bulan apa buku non fiksi rencananya diterbitkan, bulan apa buku cerpen diterbitkan dan kapan novel diterbitkan.

Penentuan kapan diterbitkan ditentukan oleh ketersediaan naskah, dan seberapa cepat Anda menulis. Ketersediaan naskah, maksudnya jika Anda sudah sering menulis di blog, maka tulisan di blog itu bisa dipilih dan diedit untuk dijadikan buku. Jadi Anda tinggal memilah-milah tulisan mana yang cocok untuk dijadikan buku non fiksi tertentu. Jika Anda punya banyak naskah motivasi, itu bisa digabung jadi buku. Juga jika ada tulisan dengan tipe how to, itu bisa dikumpul dan dijadikan buku.

Ketika menyeleksi naskah, sebaiknya mempertimbangkan relevansi temanya. Tulisan bertema teknologi, misalnya gadget, biasanya hanya relevan di waktu tertentu karena cepatnya perkembangan. Jadi jika memilih tema teknologi, pastikan tema itu akan tetap relevan dan up to date sekalipun dibaca setahun atau dua tahun lagi.

Kecepatan menulis (atau mengetik) ditentukan oleh seberapa banyak atau panjang buku yang direncanakan dibuat. Ini terutama untuk naskah yang benar-benar baru. Jika Anda berencana membuat novel dan diperkirakan memiliki 100.000 kata, jika dalam sehari Anda bisa menulis 1.000 kata, maka naskah itu bisa selesai dalam 100 hari atau sekitar tiga bulan.

Supaya gampang, sebaiknya dibuat semacam daftar sederhana. Daftar itu dibagi dalam dua kategori yakni non fiksi dan fiksi. Lalu tuliskan judul masing-masing kategori. Setiap judul dilengkapi dengan jadwal kapan diterbitkan.

Saya sendiri untuk buku digital menargetkan setidaknya di tahun 2015 ini bisa menerbitkan 60 judul. Jadi setiap bulan minimal 5 judul. Sebagian naskah diolah dari materi public domain, sebagian lagi ditulis sendiri.

Buku digital terbaru, terbit 22 Februari 2015

Buku digital terbaru, terbit 22 Februari 2015

5. Menulis dan menulis

Selesai merancang perencanaan, kini saatnya eksekusi. Jika materi naskah belum ada, tentu yang perlu dilakukan adalah menulis dan menulis. Tentukan target setiap hari, dan usahakan memenuhi target. Supaya mudah, sebaiknya memilih waktu yang paling cocok untuk menulis. Misalnya ada yang bisa menulis dengan enak di pagi hari sekitar jam 05.00, ada yang bisa menulis di atas jam 12 malam, ada yang bisa menulis di sore hari di tengah cafe di mall, dan sebagainya.

Menulis merupakan roh dan modal utama dari bisnis penerbitan. Jadi menulis dan menulislah.

6. Bahasa Inggris, bukan Indonesia

Karena akan dipasarkan di dunia internasional, buku digital yang dibuat harus dalam bahasa Inggris. Hingga tulisan ini dibuat, KDP Amazon belum menerima naskah dalam bahasa Indonesia.

Bagaimana jika bahasa Inggris pas-pasan? Anda bisa menggunakan jasa penerjemah yang rasa-rasanya ada di setiap kota besar di Indonesia. Anda juga bisa menggunakan jasa teman, kenalan atau kerabat yang fasih berbahasa Indonesia.

Oh ya, sebaiknya Anda TIDAK menggunakan jasa penerjemah di internet, seperti Google Translate. Karena terjemahan di Google Translate, terutama dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris masih kacau dari sisi tata bahasa.

7. Cover, editing dan layout

Setelah naskah rampung, Anda harus melengkapinya dengan cover yang relevan. Usahakan cover bukunya berkualitas. Atau setidaknya memiliki kualitas yang setara dengan buku yang diterbitkan penerbit besar. Jika tak bisa membuat cover, Anda bisa menyewa tenaga profesional yang memang bisa membuat cover.

Cover buku digital yang dibuat sendiri

Cover buku digital yang dibuat sendiri

Jika memungkinkan, Anda juga sebaiknya menyewa tenaga editor, untuk meminimalkan kesalahan ejaan dan tata bahasa. Kekurangan utama buku yang diterbitkan secara self publishing adalah editing yang buruk. Dan ini biasanya terjadi karena si penulis terlalu percaya diri dengan kemampuan berbahasanya.

Setelah naskahnya rampung, selanjutnya dilayout. Untuk buku digital yang dipasarkan di Amazon, naskah diformat dalam Microsoft 2010. KDP Amazon menyediakan panduan untuk layout dan caranya relatif mudah.

8. Terbit dan publikasi

Setelah semuanya rampung, naskah diterbitkan.Biasanya buku digital sudah bisa dibeli konsumen beberapa jam hingga beberapa hari setelah dipublish. Di KDP, naskah yang dimasukkan akan diseleksi kelayakannya. Biasanya yang pasti lolos adalah naskah yang unik yang tidak ditemui di situs atau website.

Jika bukunya sudah tersedia di pasar, langkah selanjutnya adalah pemasaran. Anda bisa membuat website khusus dengan nama penerbit. Membuat page khusus di Facebook, akun Twitter, Google+ dan sebagainya.

9. Buat dan buat lagi

Sekalipun publikasi dan promosi itu perlu, namun sebaiknya jangan terlalu menghabiskan waktu pada promosi. Setelah buku ada di pasar dan relatif dikenal, kini saatnya untuk menyelesaikan proyek selanjutnya. Membuat atau menyelesaikan naskah buku kedua. Dan ketiga. dan seterusnya, dengan berpatokan pada daftar rencana yang dibuat sebelumnya. []

Catatan

Tulisan ini merupakan bagian dari buku berjudul (sementara) Lets Get Digital: Meraup dolar dari Amazon, iBooks, Barnes & Noble dan Kobo yang kini dalam proses penerbitan oleh Elex Media Komputindo…


TAGS bisnis buku digital bisnis ebook


-

Author

@sukangeblog
Seorang yang (pernah) merasa suka (banget) ngeblog namun kini jarang ngeblog karena (sok) sibuk, hehehehe

Follow Me