Maaf, Sekedar Menulis Ketika Ngeblog Kini Tak Lagi Cukup

Ngeblog harus punya nilai tambah

NGEBLOG, merupakan hal yang sangat menyenangkan. Dengan ngeblog, kita bisa menuliskan apa saja yang terlintas di benak. Kita bisa menyalurkan ide dan gagasan, mengutarakan apa pendapat kita atas sesuatu, sebagai saluran untuk mengekspresikan kegalauan, termasuk mengasah kemampuan menulis kisah fiksi.

Pada ngeblog, kita bisa menulis apa saja. Tak ada yang melarang (tentu saja sepanjang kontennya tak melanggar hukum atau kaidah normal yang berlaku).

Dengan berlalunya waktu, kita mungkin harus mempertimbangkan kembali jargon bahwa “pada ngeblog kita bisa menulis apa saja, walau itu hanya sekedarnya“. Penyebabnya, karena kini, dan nanti, semakin susah untuk mengundang calon pembaca.

Dulu, blog memang menjadi primadona. Blog menjadi tujuan utama seseorang ketika berselancar di dunia maya. Kini, situasinya sudah berubah, terutama karena semakin banyaknya media sosial. Karena internet kini praktis ada dalam genggaman, seseorang hanya perlu memainkan jarinya beberapa kali untuk memasuki dunia sosmed yang riuh rendah.

Kini, Facebook masih menjadi nomor satu. Kemudian ada Twitter. Lalu Path. Instagram. Dan beberapa nama lain.

Merebaknya sosmed memang menjadi tantangan bagi blogger. Apalagi, harus diakui, sosmed memang lebih menyenangkan. Oleh karena itu, ketika seorang blogger memutuskan untuk menulis, mau tak mau ia harus berkompetisi dengan yang namanya sosmed.

Sebelum menulis, seorang blogger kini harus bertaya pada diri sendiri: Apa alasannya bagi pembaca untuk membaca tulisanku? Kenapa mereka harus membaca tulisanku dan bukannya tulisan lain? Apa yang menjadi kelebihan dari tulisanku sehingga pembaca rela meninggalkan sosmed untuk beberapa menit dan membaca apa yang aku tulis?

Nilai tambah

Biasanya, seseorang membaca tulisan di sebuah blog karena ia ingin mendapatkan informasi. Atau dia memiliki pertanyaan dan berharap tulisan di blog itu bisa menjadi jawaban. Ada juga yang membaca tulisan di blog untuk mendapatkan hiburan. Ada juga yang ingin menambah wawasan.

Karena itu, apapun yang kita tulis, ada baiknya jika itu memenuhi beberapa hal di atas. Yakni tulisan kita memberi informasi, menambah wawasan, menjadi solusi atau menghibur. Dengan kata lain, tulisan yang kita buat sebaiknya punya nilai tambah bagi pembaca. Ketika pembaca selesai melahap apa yang kita tulis, dia mendapatkan sesuatu, yang belum dimilikinya sebelum membaca.

Jadi, ketika kita memutuskan untuk menuliskan kegalauan karena si dia gak pernah nelpon lagi, atau gak mau membalas telpon atau pesan singkat, misalnya, kita tetap bisa menuliskan hal itu, sambil mengupayakan agar pembaca bisa mendapatkan sesuatu dari “kegalauan” kita. Misalnya pembaca bisa melihat bahwa galau itu alamiah, dan orang yang dimabuk cinta memang kerap melakukan hal-hal yang tak rasional.

Nyantai aja

Dalam beberapa hal. tuntutan untuk menghadirkan nilai tambah dalam tulisan bisa menjadi beban. Bahkan bisa menyiksa. Tuntutan semacam ini kadang justru bisa membunuh keinginan untuk ngeblog. Karena itu, sikapi hal ini dengan santai. Nyantai aja.

Jika teman-teman merasa tak punya sesuatu yang bisa dijadikan sebagai “nilai tambah”, nyantai aja. Nilai-nilai semacam ini memang gak bisa dipaksa, dan biasanya akan datang dengan sendirinya.

Kunci untuk menjadi blogger yang bisa berguna bagi pembaca hanya dua: banyak membaca dan banyak menulis. Biasanya, nilai tambah yang dibutuhkan pembaca akan datang dengan sendirinya, seiring dengan semakin besarnya “jam terbang” seorang blogger.

Jadi, tetaplah menulis. tetaplah ngeblog, jangan seperti saya yang udah berbulan-bulan gak meng-update blog ini, hahaha…

Salam


TAGS ayo menulis semangat ngeblog #SemangatNgeblog Add new tag


-

Author

@sukangeblog
Seorang yang (pernah) merasa suka (banget) ngeblog namun kini jarang ngeblog karena (sok) sibuk, hehehehe

Follow Me