5 Hal yang Perlu Dipertimbangkan Pada Self Publishing

138545679782953154

Ilustrasi (mashable.com)

ANDA punya naskah dan ingin diterbitkan menjadi buku? Jika tak ingin mengarungi belantara yang bernama penerbit, naskah itu bisa diterbitkan sendiri. Menerbitkan buku secara mandiri (self publishing) bisa menjadi jalan pintas bagi Anda yang ingin secepatnya menerbitkan buku.

Namun sebelum memutuskan untuk menjadi penerbit, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan.

1. Cetak atau digital?

Ada dua pilihan jika ingin menerbitkan buku secara mandiri. Pilihan pertama, buku diterbitkan dalam bentuk cetakan, sebagaimana lazimnya buku konvensional. Pilihan kedua, diterbitkan dalam format digital (yang lebih populer dengan istilah ebook).

Jika ingin buku dalam bentuk cetakan, juga ada dua pilihan. Pilihan pertama, Anda mencetak menggunakan dana milik sendiri (atau dari donatur). Pilihan kedua, buku diterbitkan dan dijual dalam bentuk print on demand (PoD). Jadi buku nanti dicetak jika ada pesanan dari pembeli.

Sebaiknya, sesuaikan format buku yang akan diterbitkan itu dengan pasar yang dituju. Jika bukunya berbahasa Indonesia, format yang paling cocok adalah cetakan. Jika naskahnya dalam bahasa Inggris, sebaiknya dipublish dalam format ebook.

Di Indonesia, mayoritas masyarakat masih menganggap bahwa yang disebut buku adalah yang bisa disentuh, diraba dan dilipat-lipat, hehehe. Itu sebabnya sehingga pasar buku digital di Indonesia masih relatif rendah. Untuk yang digital, mayoritas konsumen masih menganggap bahwa ebook itu seharusnya gratis, hahaha.

Sekalipun saat ini pasar buku digital di Indonesia masih loyo, untuk beberapa tahun ke depan saya yakin buku digital akan menjadi alternatif. Terutama karena makin banyaknya pengguna smartphone berbasis Android. Sehingga buku digital berbahasa Indonesia bisa dijual di Play Store

Jika ingin buku dijual dengan sistim PoD, Anda bisa memanfaatkan sejumlah situs seperti nulisbuku(dot)com. Untuk digital, jika naskahnya berbahasa Indonesia Anda bisa menjajal gramediana(dot)com. Untuk bahasa asing (terutama Inggris), yang paling bagus adalah Kindle Amazon. Anda juga bisa mencoba smashwords(dot)com. Pihak smashwords akan menyalurkan ebook Anda ke Apple iBookstore, Barnes & Noble, Sony Reader Store, Kobo, Flipkart, Oyster, the Diesel eBook Store, Baker & Taylors Blio dan Axis360.

Saya belum pernah membuat buku di nulisbuku dan gramediana, namun cukup punya pengalaman di Kindle Amazon dan Smashwords. Namun saya berencana di tahun 2014 ini bakal menjajal gramediana, hehehe

2. Bagaimana pendanaan?

Dana yang dibutuhkan untuk self publishing bisa ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah. Dana ratusan ribu diperlukan antara lain untuk membayar biaya pembuatan cover buku dan lay out, juga untuk menyewa editor atau proofreader. Dana puluhan juta diperlukan untuk biaya cetak jika Anda memutuskan mencetak sendiri.

Cover buku sebaiknya dibuat dengan profesional supaya tidak terkesan amatiran. Setidaknya, buku yang Anda buat harus memiliki kualitas yang mendekati atau menyamai cover buku milik penerbit papan atas. Sementara editor diperlukan untuk memperbaiki kesalahan berbahasa. Kelemahan utama buku hasil self publishing adalah banyaknya salah ketik, salah istilah atau salah eja, karena penulisnya enggan melibatkan pihak yang profesional. Ini pula yang membuat sejumlah masyarakat menganggap buku hasil self publishing berkualitas rendah.

3. Bagaimana Distribusi?

Bagaimana distribusi buku sangat terkait dengan platform apa yang dipilih. Jika memutuskan mencetak sendiri, bagaimana caranya agar buku itu bisa tiba di toko buku? Apakah mendatangi toko buku satu per satu? Atau memanfaatkan pihak ketiga sebagai distributor?

Pertimbangkan juga jangka waktu yang dibutuhkan untuk sebuah buku bisa sampai ke pembaca. Buku yang dijual dengan sistim PoD, biasanya baru tiba ke pemesan sekitar 10 hingga 14 hari. Jika buku digital, biasanya sudah bisa tiba di gadget pemesan beberapa saat setelah si pemesan melakukan pembayaran.

4. Pemasaran dan Publikasi

Buku yang dijual tak akan dibeli orang jika tidak disertai langkah pemasaran dan publikasi yang tepat. Jika buku dijual di toko buku, bagaimana caranya supaya calon pembeli tahu bahwa buku itu sudah tersedia di toko buku? Bagaimana caranya supaya buku dengan sistim PoD bisa dipesan banyak orang?

Perpaduan pemasaran online dan offline mungkin bisa menjadi pilihan. Jika punya dana berlebih, Anda bisa memasang iklan di harian di kota tertentu. Atau bisa menggelar kontes review buku berhadiah gadget. Atau memanfaatkan komunitas tertentu di jejaring sosial. Anda juga bisa meminta beberapa teman yang pintar nulis untuk membuat review.

5. Bagaimana Pendapatan?

Banyak pihak yang membuat buku dengan metode self publishing semata untuk kebanggaan, dan tak peduli dengan besar-kecilnya pendapatan. Namun jika ingin menjadikan penerbitan buku sebagai bisnis, Anda harus memikirkan berapa besar pendapatan yang bisa diraih.

Jika menertbitkan buku dengan biaya sendiri, berapa harga ideal dan berapa eksemplar yang dibutuhkan supaya bisa mencapai titik impas? Berapa harga yang ideal supaya bisa mendapat untung? Hal-hal seperti ini harus dipertimbangkan dengan seksama.

Perhitungan juga harus dilakukan jika Anda bekerjsama dengan pihak lain. Di nulisbuku, misalnya, prosentase pendapatan adalah 60:40. 60 persen untuk Anda dan 40 persen merupakan fee buku untuk situs itu. Sementara di gramediana perbandingannya 50:50.

Di Kindle Amazon, besar royalti bisa dipilih sendiri, yakni 35% dan 70% sementara di smashwords, royaltinya pada kisaran 60% hingga 85%

***

Menulis itu menyenangkan, dan bisa menerbitkan buku itu membanggakan. Apalagi jika bukunya bisa jadi duit. Namun sebelum benar-benar terjun dalam pertempuran, ada baiknya Anda mempelajari seperti apa medan yang akan dilalui.


TAGS


-

Author

@sukangeblog
Seorang yang (pernah) merasa suka (banget) ngeblog namun kini jarang ngeblog karena (sok) sibuk, hehehehe

Follow Me