Menulis Buku Tokoh Nasional? Ini Caranya…

ANDA tertarik membuat dan menerbitkan buku? Jika ya, genre apa yang sebaiknya ditulis? Ada banyak pilihan, baik yang termasuk fiksi maupun non fiksi. Untuk non fiksi, salah satu genre yang bisa ditulis dengan potensi pasar yang cukup besar adalah ulasan tentang tokoh nasional. Terutama tokoh yang kerap muncul dalam pemberitaan media massa, atau yang disebut-sebut sebagai calon pemimpin potensial (baik gubernur, anggota DPR maupun presiden).

Tulisan tentang tokoh nasional tentu tak harus dalam bentuk biografi yang memaparkan riwayat hidup sang tokoh dari kecil hingga dewasa. Anda bisa memaparkan banyak hal dari sudut pandang yang berbeda.

1. Tentukan tokoh

Langkah pertama jika ingin menulis buku tentang tokoh nasional adalah menentukan siapa tokoh yang diincar. Syarat utama adalah dia harus populer (atau setidaknya diperkirakan akan populer). Bahwa masyarakat haus akan informasi seputar sang tokoh, dan akan rela mengeluarkan uang puluhan ribu rupiah untuk membeli buku tentang tokoh dimaksud.

2. Survey buku pesaing

Setelah menentukan tokoh tertentu, langkah selanjutnya adalah melakukan survey pada buku pesaing yang sudah lebih dulu terbit. Misalnya Anda ingin membuat buku tentang Jokowi, sebaiknya survey buku-buku tentang Jokowi seperti apa yang sudah lebih dulu diterbitkan. Jika ada buku Jokowi yang termasuk dalam best seller, simak apa yang dipaparkan dalam buku itu, poin-poin apa yang membuat buku itu menarik, dan yang semacam itu.

Bagaimana jika buku pesaing tak ditemukan di toko buku? Ada dua kemungkinan. Pertama, buku tentang tokoh itu dianggap tak layak jual. Kedua, belum ada yang membuat buku tentang tokoh itu. Jika belum ada buku pesaing sementara Anda yakin bahwa potensi pembaca yang ingin mengetahui seluk beluk sang tokoh sangat besar, berarti Anda telah menemukan tambang emas yang sangat menjanjikan.

3. Kumpul informasi

Berbeda dengan 20 tahun lalu, kini membuat buku relatif mudah. Informasi bisa didapatkan dengan mudah dengan bantuan Paman Google. Karena banyaknya informasi yang bertebaran di dunia maya, sebaiknya Anda melakukan seleksi yang ketat pada sumber berita. Sebaiknya informasi hanya dikutip dari media online yang kredibilitasnya sudah teruji.

Jika sumber informasi dikutip dari blog pribadi atau page Facebook, sebaiknya info itu dicek dan ricek dengan sumber lain sebagai pembanding

4. Usahakan wawancara langsung

Selain mengumpulkan informasi dari media online (dan juga kliping koran/majalah), sebaiknya Anda melakukan wawancara dengan tokoh yang diincar. Jika susah untuk wawancara secara face to face, Anda bisa melakukan secara tak langsung. Misalnya Anda mengirimkan email dan menginformasikan bahwa Anda sedang menyusun buku tentang sang tokoh dan ingin mengonfirmasi beberapa hal. Dalam email itu Anda sudah menyisipkan daftar pertanyaan yang bisa dijawab (atau dibalas) secara tertulis.

Selain email, pertanyaan juga bisa diajukan via SMS (jika Anda beruntung mendapatkan no HP sang tokoh). Jika sang tokoh cukup aktif di jejaring sosial seperti Twitter, pertanyaan bisa diajukan via twitter.

5. Bagaimana menerbitkan?

Setelah naskahnya rampung, yang harus dipikirkan adalah bagaimana naskah itu bisa terbit. Ada dua cara. Pertama, naskah dikirim ke penerbit terkemuka. Naskah itu akan direview dan jika dianggap layak akan diterbitkan.

Keuntungan dengan menerbitkan ke penerbit terkemuka adalah Anda tak perlu mengeluarkan biaya sepeserpun. Semua hal yang terkait dengan buku seperti cover, tata letak bahkan promosi dan distribusi ditangani sepenuhnya oleh si penerbit. Anda tinggal ongkang-ongkang kaki menunggu kiriman royalti (ehm ehm).

Kelemahannya, Anda tak bisa melakukan revisi (misalnya menambahkan bab). Kalau ada revisi, harus menunggu hingga buku itu dicetak ulang (jika laris). Kelemahan lain, adalah royalti yang relatif kecil.

Pilihan kedua terkait penerbitan adalah menerbitkan secara mandiri (self publishing). Keuntungan dengan cara ini adalah Anda punya kontrol penuh pada buku. Disain cover bisa diatur sesuai selera, juga tata letak. Jika ingin merevisi, Anda bisa melakukannya kapan saja. Sebagai penerbit, Anda juga punya akses utama pada hasil penjualan.

Kelemahannya, self publishing seperti ini perlu dana yang tidak sedikit. Bisa puluhan juta rupiah. Dan jika bukunya tak laku, uang itu bisa hangus, hehehe

Jika menerbitkan sendiri, Anda juga perlu memikirkan bagaimana distribusinya. Bagaimana supaya buku itu bisa ada di semua toko buku terkemuka di seluruh Indonesia. Jika punya waktu, Anda bisa menangani distribusi secara langsung. Anda mendatangi toko buku satu per satu dan melakukan nego.

Cara alternatif, Anda bekerjasama dengan pihak distributor yang punya akses ke jaringan toko buku. Tentu, harus ada hitungannya. Distributor akan meminta sekian persen dari penjualan.

6. Contoh kasus: Buku Gita Wirjawan Sebuah Perjalanan

Akhir tahun 2013 lalu saya terlibat dalam penyusunan buku tentang Gita Wirjawan. Alasan utama sehingga kami memutuskan membuat buku itu adalah, belum ada buku tentang Gita Wirjawan di pasaran. Jika buku tentang Jokowi, Dahlan Iskan atau Mahfud MD sudah berlimpah, buku tentang Gita Wirjawan belum ada. Ini ceruk pasar yang kami pikir bisa dieksplorasi.

Awalnya naskah buku ini diambil sepenuhnya dari internet. Belakangan, setelah mendapatkan akses langsung, kami melakukan sejumlah wawancara. Naskah hasil olahan dari sumber internet dirombak habis, diperdalam dan dipertajam.

13823997052059486883

Buku Gita Wirjawan (dok. pribadi)

Draft naskah ini sempat kami tawarkan ke sebuah penerbit besar. Dan pihak penerbit setuju. Namun karena alasan teknis akhirnya kami memutuskan untuk menerbitkan secara mandiri. Dengan penerbitkan sendiri kami bisa melakukan revisi pada bab tertentu (yang terakhir direvisi adalah bab yang membahas peran Gita Wirjawan dalam APEC dan WTO). Karena menerbitkan sendiri, kami bekerjasama dengan pihak distributor yang punya akses langsung ke ratusan toko buku se-Indonesia. (Buku Gita Wirjawan: Sebuah Perjalanan kini tak bisa ditemui di sejumlah tokoh buku terkemuka di kota besar Indonesia karena stoknya sudah habis, hehehe).

Pengalaman saya selama membuat naskah buku Gita Wirjawan Sebuah Perjalanan, menulis buku tentang tokoh nasional ternyata tidak terlalu susah. Setelah materinya terkumpul, menulis buku semacam ini cukup mengasyikkan. Apalagi, pada beberapa bab, pendekatannya saya buat seperti halnya menulis artikel di Blogdetik, hehehe

Jadi jika Anda suka menulis dan ingin tantangan baru, maka menulis buku tentang tokoh nasional bisa dijadikan pilihan. Apalagi, dari sisi bisnis, keuntungannya benar-benar menggiurkan. Sangat menggiurkan!!


TAGS


-

Author

@sukangeblog
Seorang yang (pernah) merasa suka (banget) ngeblog namun kini jarang ngeblog karena (sok) sibuk, hehehehe

Follow Me