Menulis Jadi Bisnis? Ini Caranya

1390884644861761138

(ec.europa.eu)

MENULIS merupakan hobi yang paling menyenangkan. Karena selain bisa menyalurkan ide, gagasan dan curahan hati, juga bisa menjadi alternatif pemasukan. Bahkan, jika dikelola dengan tepat, hobi menulis bisa menjadi bisnis yang menggiurkan.

Hingga lima tahun lalu, untuk membuat (atau menerbitkan) buku, seseorang harus berhubungan dengan penerbit terkemuka. Prosesnya ribet, lama dan kadang bikin frustrasi. Belum lagi dengan kecilnya royalti. Namun untunglah, perkembangan jaman (juga teknologi) memungkinkan siapapun menjadi penerbit. Artinya, semua orang kini bisa masuk dan ikut memperebutkan kue di bisnis penerbitan.

Dewasa ini, peluang di bisnis penerbitan tak hanya di buku cetak, namun juga buku elektronik (yang umumnya dikenal dengan istilah e-book).

Kalau begitu, apa yang harus dilakukan untuk memulai bisnis dengan menulis? Ini hal yang bisa dilakukan:

1. Pilih nama penerbitan

Karena Anda akan menjadi penerbit, maka Anda perlu memilih nama untuk penerbitan itu. Nama tentu terserah Anda. Dulu, ketika kami di Rumah Kayu memutuskan membentuk penerbitan, kami memilih nama Daun Ilalang Publishing. Daun Ilalang Publishing sudah menghasilkan satu buku hasil kompilasi tulisan di blog Rumah Kayu berjudul Senandung Cinta adari Rumah Kayu.

Guna keperluan menerbitkan ebook di Kindle Direct Publishing di Amazon, saya mendirikan beberapa perusahaan penerbitan. Masing-masing genre memiliki nama penerbit tersendiri. Misalnya untuk kisah fiksi bergenre Western, nama penerbit yang saya gunakan adalah Wildwest Press Co. dan Wild West Story Corp.

1390884771443061233

Nama penerbit untuk genre Western (dok. pribadi)

Untuk buku-buku kuliner diterbitkan oleh SweeTaste Press dan Delicious Taste Publishing. Untuk genre kisah misteri dan horror diterbitkan oleh Mystery Press Corp., dan seterusnya. (Perusahaan penerbitan yang saya dirikan itu tentu hanya berkantor di dunia maya, hehehe.)

2. Sediakan modal

Namanya bisnis tentu perlu modal. Apapun jenis bisnisnya, tetap memerlukan modal. Berapa besar modal yang perlu disediakan untuk bisnis penerbitan buku itu tergantung platform yang digunakan. Untuk tahap awal, sebaiknya modal ditekan seminimal mungkin.

3. Tentukan platform

Platform apa yang akan digunakan untuk bisnis penerbitan? Apakah yang disasar buku cetak? Apakah buku digital? Ataukah kombinasi cetak dan digital?

Berdasarkan pengalaman, platform digital cenderung lebih mudah. Selain tidak ribet, juga lebih murah. Namun untuk pasar Indonesia, prospek buku cetakan masih sangat besar.

4. Buat perencanaan

Setelah menentukan platform, langkah selanjutnya adalah membuat perencanaan. Misalnya, untuk tahun 2014, berapa buku yang direncanakan untuk diterbitkan? Apa jenisnya, apakah non fiksi atau fiksi?

Biasanya buku non fiksi lebih gampang dibuat, dan tentu lebih cepat. Buku fiksi, terutama novel cenderung susah dibuat dan perlu waktu. Jadi untuk perencanaan, misalnya Anda tentukan, untuk tahun 2014 akan menerbitkan 5 buku non fiksi, 7 buku antologi cerpen dan 3 novel.

Setelah menentukan berapa buku yang akan diterbitkan, tentukan jangka waktunya. Jadi di bulan apa buku non fiksi rencananya diterbitkan, bulan apa buku antologi cerpen diterbitkan dan kapan novel diterbitkan.

Penentuan kapan diterbitkan ditentukan oleh ketersediaan naskah, dan seberapa cepat Anda menulis. Ketersediaan naskah, maksudnya jika Anda sudah sering menulis di Blogdetik, maka tulisan di Blogdetik itu bisa dipilih dan diedit untuk dijadikan buku. Jadi Anda tinggal memilah-milah tulisan mana yang cocok untuk dijadikan buku non fiksi tertentu. Jika Anda punya banyak naskah motivasi, itu bisa digabung jadi buku. Juga jika ada tulisan dengan tipe how to, itu bisa dikumpul dan dijadikan buku.

Ketika menyeleksi naskah, sebaiknya mempertimbangkan relevansi temanya. Tulisan bertema politik, biasanya hanya relevan di waktu tertentu. Jadi jika memilih tema politik, pastikan tema itu akan tetap relevan dan up to date sekalipun dibaca setahun atau dua tahun lagi.

Jika Anda banyak menulis cerpen, pilah cerpen itu berdasarkan tema untuk dibuat kompilasi. Lihat juga cerita yang belum selesai. Misalnya cerbung. Perkirakan kapan cerbung itu bisa selesai untuk selanjutnya dijadikan novela atau novel.

Kecepatan menulis (atau mengetik) ditentukan oleh seberapa banyak atau panjang buku yang direncanakan dibuat. Ini terutama untuk naskah yang benar-benar baru. Jika Anda berencana membuat novel dan diperkirakan novel itu memiliki 100.000 kata, jika dalam sehari Anda bisa menulis 1.000 kata, maka naskah itu bisa selesai dalam 100 hari atau sekitar tiga bulan.

Supaya gampang, sebaiknya dibuat semacam daftar sederhana. Daftar itu dibagi dalam dua kategori yakni non fiksi dan fiksi. Lalu tuliskan judul masing-masing kategori. Setiap judul dilengkapi dengan jadwal kapan diterbitkan.

Saya sendiri untuk buku digital menargetkan setidaknya di tahun 2014 ini bisa menerbitkan 60 judul. Jadi setiap bulan minimal 5 judul. Sebagian naskah diolah dari materi public domain, sebagian lagi ditulis sendiri. Di Kindle Direct Publishing, kita bisa menerbitkan buku sekalipun itu hanya berupa cerpen dengan 5.000 hingga 6.000 kata (biasanya disebut sebagai Kindle Single). Jika cerpen yang dibuat jumlah katanya pada rentang seribu hingga tiga ribuan, biasanya saya menggabungkan beberapa judul cerpen menjadi satu. Di Kindle saya lebih suka membuat cerpen, yang rasanya lebih mudah. Untuk novel, saya memilih meramu dari materi public domain.

5. Menulis dan menulis

Selesai merancang perencanaan, kini saatnya eksekusi. Jika materi naskah belum ada, tentu yang perlu dilakukan adalah menulis dan menulis. Tentukan target setiap hari, dan usahakan memenuhi target. Supaya mudah, sebaiknya memilih waktu yang paling cocok untuk menulis. Misalnya ada yang bisa menulis dengan enak di pagi hari sekitar jam 05.00, ada yang bisa menulis di atas jam 12 malam, ada yang bisa menulis di sore hari di tengah cafe di mall, dan sebagainya.

Menulis merupakan roh dan modal utama dari bisnis penerbitan. Jadi menulis dan menulislah.

6. Cover, editing dan layout

Setelah naskah rampung, Anda harus melengkapinya dengan cover yang relevan. Usahakan cover bukunya berkualitas. Atau setidaknya memiliki kualitas yang setara dengan buku yang diterbitkan penerbit besar. Jika gak bisa membuat cover, Anda bisa menyewa tenaga profesional yang memang bisa membuat cover.

Jika memungkinkan, Anda juga sebaiknya menyewa tenaga editor, untuk meminimalkan kesalahan ejaan dan tata bahasa. Kekurangan utama buku yang diterbitkan secara self publishing adalah editing yang buruk. Dan ini biasanya terjadi karena si penulis terlalu percaya diri dengan kemampuan berbahasanya.

Setelah naskahnya oke, selanjutnya dilayout. Anda juga bisa menyewa tenaga profesional jika tak punya ketrampilan untuk melayout. Anda juga bisa mencoba melayout sendiri. Di internet banyak situs yang menyediakan template untuk layout buku.

13908849002113853105

Template layout buku di internet (www.bookdesigntemplates.com/template-gallery)

Jika naskah buku dalam bahasa Inggris dan ingin dicetak, Anda bisa menggunakan Createspace, situs milik Amazon. Di Createspace, setelah naskah diupload otomatis akan disetting layoutnya.

139088498227890199

Upload naskah di Createspace (dok. pribadi)

Untuk format digital di Kindle, naskah biasanya dilayout di Microsoft 2010. Kindle menyediakan panduan untuk layout dan caranya relatif mudah.

7. Terbit dan publikasi

Setelah semuanya rampung, naskah diterbitkan. Jika bukunya hasil cetakan, penerbitan bisa berupa launching buku. Anda bisa mengundang puluhan Bloggerdetik untuk hadir. Sebaiknya launching dirangkaikan dengan diskusi atau bedah buku.

Untuk versi digital, biasanya ebook sudah bisa dibeli konsumen beberapa jam hingga beberapa hari setelah dipublish. Di Kindle, naskah yang dimasukkan akan diseleksi kelayakannya. Biasanya yang pasti lolos adalah naskah yang unik yang tidak ditemui di situs atau website.

Jika bukunya sudah tersedia di pasar, langkah selanjutnya adalah pemasaran. Anda bisa membuat website khusus dengan nama penerbit. Membuat page khusus di Facebook, akun Twitter, Google+ dan sebagainya.

8. Bikin dan bikin lagi

Sekalipun publikasi dan promosi itu perlu, namun sebaiknya jangan terlalu menghabiskan waktu pada promosi. Setelah buku ada di pasar dan relatif dikenal, kini saatnya untuk menyelesaikan proyek selanjutnya. Membuat atau menyelesaikan naskah buku kedua. Dan ketiga. dan seterusnya, dengan berpatokan pada daftar rencana yang dibuat sebelumnya.

***

Membangun bisnis dari menulis bisa dilaksanakan sendiri, bisa juga dilakukan bersama teman yang punya gagasan dan visi yang sama. Karena berupa bisnis, penerbitan buku harus disikapi dengan serius, sebagaimana layaknya sebuah bisnis.

Jika belum siap untuk membangun bisnis penerbitan sendiri, Anda bisa nebeng dan bekerjasama dengan penerbit mapan. Caranya, Anda menyiapkan naskah dan menyodorkannya ke penerbit. Jika naskah Anda dianggap cocok oleh penerbit, selanjutnya tinggal menunggu jadwal untuk diterbitkan. Dan Anda kini menjadi bagian dari bisnis menggiurkan penerbitan buku.

Berani mencoba?


TAGS


-

Author

@sukangeblog
Seorang yang (pernah) merasa suka (banget) ngeblog namun kini jarang ngeblog karena (sok) sibuk, hehehehe

Follow Me